Diare akut tanpa komplikasi pada orang dewasa, secara umum bisa diobati sendiri. Pedoman pengobatan sudah banyak dibuat, hanya saja tidak konsisten. Kadang-kadang kontradiktif dan lebih sering berupa dogma daripada berdasarkan bukti. Sebuah kelompok yang terdiri dari 7 ahli tingkat dunia dari berbagai disiplin ilmu telah dibentuk. Kelompok ini meneliti kembali berbagai petunjuk pengobatan yang rasional dan memeriksa validitas dari berbagai pengobatan yang berbeda, sehingga diperoleh suatu petunjuk pengobatan berdasarkan bukti dan dapat diaplikasikan secara luas. Penting untuk memberi tekanan bahwa tujuan pembuatan guideline ini adalah untuk merumuskan standar pengobatan sendiri pada orang dewasa yang masih kuat.
Kelompok peneliti ini mengulas banyak makalah mengenai diare dari Medlines untuk melihat apakah benar bahwa diare adalah mekanisme pertahanan. Disimpulkan bahwa anggapan diare sebagai mekanisme pertahanan terlihat sebagai logika yang tidak terlalu mendalam, terutama jika diare tersebut disebabkan oleh patogen. Sulit untuk menjelaskan bagaimana diare dapat menghilangkan patogen yang sudah melekat di fimbrae dan mengurangi sekresi yang disebabkan oleh toksin yang sudah melekat kuat di mukosa usus. Atau, pada kasus diare karena virus, bagaimana bisa meningkatkan absorbsi jika mukosanya sudah rusak. Pada pasien karena AIDS atau infeksi parasit dengan perubahan respons imun, diare tidak melenyapkan patogen. Lebih jauh, hipotesis mengenai mekanisme pertahanan tidak cocok untuk diare yang lain, seperti diare karena diabetes, stres, atau hipertiroid yang tidak ada hubungannya dengan patogen.
Mereka juga mengkaji berbagai pilihan terapi diare akut pada orang dewasa. Studi farmakologi dan studi klinis juga memeriksa dosis, jadwal pemberian (contoh, seperti profilaksis dan terapi akut), dan hubungannya dengan efektivitas klinis serta pengobatan sendiri pada diare akut dewasa. Secara umum diakui bahwa pengobatan diare akut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan disfungsi sosial yang terjadi. Tidak ada bukti bahwa pengobatan sendiri dapat memperpanjang penyakit, bahkan cukup aman bagi pasien dewasa.
Pilihan terapi diare akut yang dikaji meliputi cairan rehidrasi oral (CRO), probiotik, adsorbent, dan beberapa obat antidiare. Hasil yang diperoleh di antaranya CRO tidak mengurangi lamanya diare atau mengurangi frekuensi diare. CRO juga tidak memberikan manfaat yang berarti bagi orang dewasa yang dapat menjaga asupan cairannya selama diare. Sementara itu, hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan dengan probiotik pada manusia mengurangi kolonisasi pathogen atau melindungi dari organisme seperti Vibrio cholera atau E. coli. Adsorbent bekerja dengan mengikat air sehingga mengurangi cairan yang keluar bersama diare. Tetapi, selain memiliki efek samping yang rendah, adsorbent tidak memberikan banyak manfaat pada orang dewasa yang terkena diare akut.
Obat antidiare yang lebih lama seperti opium, morphine, dan codein memang efektif mengatasi diare, tapi memiliki efek sentral. Secara umum, efektivitasnya lebih rendah dibanding loperamide. Karena itu, loperamide oral adalah pilihan utama terapi. Loperamide adalah peripheral acting opiate, yang tidak berpotensi untuk disalahgunakan. Obat ini tidak melewati sawar darah otak dan sulit mencapai sirkulasi sistemik karena ekstraksi yang ekstensif di hati serta ekskresi melalui tinja. Loperamide memiliki banyak efek antiekskresi, beberapa di antaranya tidak dimediasi oleh reseptor opiat. Pada orang dewasa sehat, dosis terapeutik sebesar 4 mg tidak secara signifikan memperlambat transit orocaecal. Dosis yang lebih besar atau pengulangan dosis yang mempertinggi konsentrasi obat di sirkulasi enterohepatik, memperlambat jejunum atau transit orocaecal. Tapi, pada keadaan diare dosis terapi tersebut akan menormalkan transit. Bukti dari studi yang terkontrol memperlihatkan loperamide tidak memiliki efek yang tidak baik untuk kasus infeksi non-disentri pada diare perjalanan (tanpa demam tinggi atau darah di tinja), meskipun disebabkan oleh E. coli, Shigella, Campylobacter atau Salmonella, baik monoterapi maupun dikombinasi dengan antibiotik. Jika dikombinasi dengan antibiotik, loperamide akan mengurangi frekuensi diare dan memperpendek durasi diare.
Secara singkat, panel ahli merekomendasikan pedoman pengobatan diare akut dewasa sbb.:
* Intake cairan: Sebaiknya dikonsumsi sesuai dengan rasa haus yang timbul. Dianjurkan untuk minum cairan yang mengandung glukosa (limun, soda manis, jus buah) atau sup yang mengandung banyak elektrolit.
* Cairan rehidrasi oral: Meskipun sangat penting untuk kasus diare pada anak-anak, ORS tidak diperlukan untuk orang dewasa sehat yang terkena diare. Tidak ada bukti bahwa ORS dapat menyembuhkan atau memperpendek masa diare.
* Intake makanan: Sebaiknya konsumsi makanan padat tetap dilakukan sesuai selera. Tidak ada bukti bahwa memakan makanan padat akan menghambat penyembuhan. Makanan kecil yang ringan dianjurkan. Makanan berlemak, berat, pedas, atau merangsang (kafein, termasuk yang terdapat dalam minuman yang mengandung cola), sebaiknya dihindari. Menghindari laktosa di dalam makanan (seperti susu) mungkin akan membantu untuk kasus diare akut yang episodenya lebih panjang.
* Probiotik: Terbukti tidak membantu meskipun digunakan pada awal pengobatan.
* Obat anti diare: Pilihan utamanya adalah loperamide 2 mg (dosis fleksibel, tergantung dari seberapa sering BAB cair yang terjadi). Anti diare lain tidak direkomendasikan karena efektivitasnya belum pasti, mula kerja yang lambat, dan potensi efek samping yang ditimbulkan. Tidak ada bukti bahwa menghambat keluarnya BAB cair akan memperpanjang penyakit. Justru telah terbukti penggunaan antidiare akan mengurangi diare dan mmperpendek durasi diare.
* Antimikroba: Dianjurkan untuk diberikan pada turis yang bepergian dalam travel kit beserta loperamide. Quinolone direkomendasikan sebagai pilihan utama, dan pilihan berikutnya adalah cotrimoxazole.
Campur tangan dokter juga diperlukan jika tidak ada perbaikan gejala setelah 48 jam, atau ada bukti terjadinya kemunduran, seperti dehidrasi, perut kembung, atau tanda-tanda disentri (panas > 38,5ºC dan darah pada tinja)
Incoming search terms for the article: