Malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di banyak negara di daerah tropis. Pengembangan vaksin yang efektif menjadi prioritas kesehatan utama di negara-negara ini. Vaksin ini ditujukan untuk stadium praeritrosit P. falciparum dan dapat mencegah atau mengurangi jumlah parasit yang mencapai stadium eritrosit, yang menyebabkan sakit.
Kandidat vaksin malaria sebelumnya, SPf66, yang memberikan perlindungan pada penelitian awal di Amerika Selatan dan Tanzania, ternyata tidak memberikan hasil serupa ketika diuji coba di Afrika dan Asia. Karena itulah dilakukan penelitian dengan vaksin baru, yaitu RTS,S/AS02.
RTS,S/AS02 merupakan vaksin malaria praeritrosit yang dibuat berdasarkan protein permukaan sirkumsporozoit P. falciparum yang difusi dengan HbsAg dan digabungkan dengan adjuvan baru (AS02). Penelitian dilakukan secara random untuk mengetahui efikasi RTS,S/AS02 terhadap infeksi alami P. falciparum pada pria dewasa yang setengah imun di Gambia.
Penelitian dilakukan terhadap 306 pria Gambia berusia 18-45 tahun. Mereka secara acak diberikan tiga dosis, baik RTS,S/ASS02 ataupun vaksin rabies sebagai kontrol. Para sukarelawan ini diberikan sulfadoksin/pirimetamin 2 minggu sebelum dosis ketiga, dan berada dalam pengawasan selama musim penularan malaria. Sediaan apus darah dikumpulkan sekali seminggu dan setiap kali seorang sukarelawan mengalami gejala malaria. Tujuan utamanya adalah menemukan saat pertama kali infeksi P. falciparum.
Hasil pengamatan menunjukkan 250 pria (131 pada kelompok RTS,S/AS02 dan 119 pada kelompok kontrol) menerima tiga dosis vaksin dan diamati selama 15 minggu. RTS,S/AS02 terbukti aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Infeksi P. falciparum secara signifikan terjadi lebih awal pada kelompok kontrol dibandingkan pada kelompok RTS,S/AS02 (uji Wilcoxon, p = 0,018). Efikasi vaksin sebesar 34% (95% interval konvidens 8,0-53, p = 0,014), setelah faktor bias ditiadakan. Proteksi vaksin tampaknya semakin berkurang. Perkiraan efikasi selama 9 minggu pertama pengamatan sebesar 71% (46-85), tetapi berkurang menjadi 0% (-52-34) dalam 6 minggu berikutnya. Vaksinasi menginduksi respons antibodi yang kuat terhadap protein sirkumsporozoit, juga respons sel-T yang kuat. Proteksi tidak terbatas pada genotip parasit NF54 yang merupakan asal vaksin. Sebanyak 158 pria menerima dosis keempat satu tahun berikutnya dan diamati lagi selama 9 minggu. Pada periode ini, efikasi vaksin hanya 47% (4-71, p = 0,037).
Dari studi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa RTS,S/AS02 adalah vaksin yang aman, imunogenik, dan merupakan vaksin praeritrosit pertama yang menunjukkan proteksi yang signifikan terhadap infeksi alami P. falciparum.