Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Instabilitas Neurokardiovaskular, Episode Hipotensi, dan Lesi MRI pada Demensia Neurodegeneratif

Tuesday, June 24th, 2008

Sekelompok peneliti yang berasal dari Pusat Penelitian Wolfson, Institut bagi Kesehatan Lanjut Usia, Rumah Sakit Umum Newcastle, melakukan penelitian terhadap hubungan antara hipersensitivitas sinus karotis dan hipotensi ortostatik dengan memburuknya hiperintensitas MRI scan. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien dengan demensia neurodegeneratif (17 demensia dengan badan Lewy, 13 dengan penyakit Alzheimer) yang telah menjalani pemeriksaan rinci hipotensi ortostatik dan hipersensitivitas sinus karotis pada saat berdiri serta kepala diangkat.

Mereka juga menjalani MRI scan pada 0,1 Tesla. Pada ukuran ini, hipersensitivitas diukur berdasarkan skala yang distandarisasi. Adanya penurunan tekanan darah > 30 mmHg saat pemijatan sinus karotis atau saat berdiri aktif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan memburuknya hiperintensitas MRI pada substansia alba (rasio odds 10,0, 95%; interval konvidens 1,8-55,7) dan pada ganglia basalis (rasio odds 11.0, 95%; interval konvidens 1.2-99.5). Tetapi, tidak pada area periventrikular (rasio odds 1.4, 95%; interval konvidens 0.3-1.8).

Pasien dengan hipersensitivitas sinus karotis bentuk cardio-inhibitory dengan penurunan tekanan darah terbesar paling berisiko mengalami perburukan ini. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki kausalitas untuk menentukan apakah hipersensitivitas sinus karotis atau hipotensi ortostatik merupakan predisposisi perburukan hiperintensitas MRI dan percepatan penurunan fungsi kognitif.

Incoming search terms for the article:

Analisis Uji Pemberian Ekstrak Ginkgo Biloba (EGb761®) pada Pasien Dimensia

Tuesday, June 24th, 2008

Belakangan ini, sebagian besar studi yang menguji kemanjuran (efikasi) obat-obatan pada kelainan dimensia menggunakan desain penelitian grup paralel dan dalam jangka waktu pengobatan selama 6 bulan. Oleh karena itu, bila kita ingin melakukan uji perbandingan efek terapi terhadap obat-obat kelainan dimensia maka diperlukan jangka waktu pengobatan selama 6 bulan sebagai salah satu syarat utama.

Salah satu preparat yang diujicobakan kemanjurannya adalah ekstrak Ginkgo Biloba (standar: EGb 761®). Konstituen aktif utama yang terdapat dalam formulasi ini adalah Ginkgo flavonoid (24%) dan terpene-lakton (6%). Walau belum sepenuhnya diketahui, aksi ekstrak Ginkgo Biloba (EGb®) terhadap sel-sel saraf merupakan hasil dari efek sinergis multipel berbagai zat yang terdapat dalam ekstrak tersebut. Di dalam EGb® terdapat zat-zat yang akan meningkatkan aliran darah serta mempertahankan metabolisme energi sel saraf dalam kondisi-kondisi kekurangan oksigen atau substrat. Efek tersebut mempengaruhi berbagai sistem neuro-transmiter/reseptor susunan saraf pusat. Telah dibuktikan pula bahwa Ginkgolide merupakan antagonis yang poten terhadap faktor aktivasi trombosit sehingga dapat berefek langsung terhadap fungsi saraf dan pengaturan proses inflamasi. Pada sisi lain, flavonoid diketahui mempunyai pengaruh antioksidan dan radikal bebas yang dapat menurunkan tekanan oksidasi serta peroksidasi dari membran saraf. Kedua mekanisme tersebut mungkin memainkan peranan penting pada patofisiologi dari penyakit Alzheimer.

Alasan-alasan di atas merupakan suatu landasan rasional yang dipakai Pierre L. Le Bars bersama kolega dari beberapa institusi untuk melakukan penelitian efek EGb® pada kelainan dimensia. Studi tersebut merupakan kerjasama dari 6 institusi dan memiliki desain double-blind, grup paralel, grup kontrol-plasebo, serta dosis tetap.

Subjek dari studi ini adalah pasien-pasien dengan usia sama atau di atas 45 tahun dengan diagnosis Alzheimer tanpa komplikasi atau dimensia multi-infark yang sesuai dengan kriteria di dalam ICD-10 dan DSM-III-R. Pasien yang dimasukkan (inklusi) memiliki nilai pemeriksaan status mental mini (Mini Mental State Examination) antara 9 dan 26 serta nilai skala deteriorasi global (Global Deterioration Scale) antara 3–6. Sedangkan kriteria eksklusi adalah bila pasien memiliki pula kelainan psiakiatrik lain atau kelainan neorologis. Demikian pula halnya bila memiliki penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, kelainan hati, kelainan ginjal, kelainan kardiovaskular, atau kelainan endokrin. Sebagai tambahan, pasien-pasien yang menjadi subjek studi harus mempunyai nilai dasar: hasil pemeriksaan laboratorium dan foto roentgen toraks yang normal serta tiadanya kelainan lain pada kepala, yang dibuktikan dari pemeriksaan MRI atau CT-scan.

Kemudian, pasien dibagi secara random ke dalam dua grup yang menerima 40 mg EGb tiga kali sehari atau menerima plasebo selama 52 minggu. Pada minggu ke-12, ke-26, dan ke-52, dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pengaruh EGb kepada pasien. Sebagai tambahan, dilakukan kunjungan singkat untuk mengetahui keamanan dan compliance dari EGb.

Pengukuran terhadap efek Egb dilakukan melalui 3 cara. Pertama, untuk mengukur perubahan kognitif pasien dengan Alzheimer digunakan skala ADAS-Cog (Alzheimer’s Disease Assessment Scale, Cognitive Subscale). Kedua, perubahan dalam aktivitas sehari-hari dan kehidupan sosial diukur dengan mempergunakan GERRI (Geriatric Evaluation by Relative’s Rating Instrument). Sedangkan kemajuan pada kondisi klinis pasien diukur dengan CGIC (Clinical Global Impression of Change).

Hasil-hasil yang diperoleh kemudian dianalisis secara keseluruhan tanpa membedakan terlebih dahulu pasien ke dalam sub-grup Alzheimer atau dimensia, karena desain studi yang dipergunakan memerlukan jumlah sampel minimal 300 pasien. Walaupun demikian, karena sebagian besar pasien (70%) ternyata termasuk sub-grup Alzheimer, dilakukan analisis tambahan terhadap data-data dari sub-grup itu sendiri.

Dari 327 orang pasien yang diperoleh pada awal studi, sebanyak 18 orang dikeluarkan (eksklusi) karena tidak memiliki data dasar (15 orang) atau karena memiliki kelainan-kelainan tambahan lainnya (diabetes melitus dan kelainan mood). Dari 309 pasien yang mengikuti studi ini, 244 pasien (76% dari grup plasebo dan 73% dari grup kontrol) mencapai pengobatan sampai minggu ke-26 (6 bulan), sedangkan 65 pasien lainnya (32/154 grup plasebo dan 33/155 grup kontrol) drop-out sebelum mencapai minggu ke-26.

Berdasarkan hasil analisis, secara keseluruhan pasien-pasien pada grup plasebo menunjukkan perburukan yang bermakna secara statistik dalam semua cara penilaian. Sedangkan grup yang menerima EGb memperlihatkan perbaikan pada penilaian kognitif dan penilaian aktivitas serta kehidupan sosial sehari-hari. Perbedaan terapi rata-rata EGb antara 1,3 dan 0,2 secara berturut-turut pada penilaian ADAS-Cog (p=0,04) dan GERRI (p=0,007). Sebanyak 26% pasien dalam grup yang menerima EGb menunjukkan peningkatan 4 angka pada skala ADAS-Cog dibandingkan dengan 17% pasien dalam grup plasebo. Sedangkan 30% pasien grup EGb menunjukkan perbaikan nilai GERRI dan 17% menunjukkan perburukan dibandingkan dengan perburukan nilai GERRI sebesar 37% dan hanya 25% yang menampakkan perbaikan dalam grup plasebo. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua grup dalam hal keamanan (safety).

Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa pemberian ekstrak Ginkgo Biloba menghasilkan efek yang positif pada pasien-pasien dengan kelainan dimensia, sehingga dapat dipertimbangkan pemberian ekstrak khusus Ginkgo Biloba ini (EGb®) sebagai terapi adjuvan atau terapi alternatif dari preparat antikolinesterase. Walaupun demikian, masih diperlukan penelitian lanjutan yang dapat menentukan hubungan dosis-respons dari EGb.

Incoming search terms for the article:

Fisioterapi pada Pasien dengan Masalah Mobilitas Lebih dari Satu Tahun Pascastroke: Uji Acak Terkontrol

Tuesday, June 24th, 2008

Pasien yang pernah stroke sering mengalami kesulitan jangka panjang dalam berjalan dan aktivitas sehari-hari, seperti bangun dari kursi dan naik tangga. Pasien sering jatuh dan ini adalah salah satu akibat stroke yang berpotensi menimbulkan masalah serius. Pasien dengan mobilitas memburuk atau pernah jatuh sering dirujuk untuk mendapatkan fisioterapi oleh dokter keluarga dan lembaga lain, seperti lembaga sosial. Meski demikian, manfaat fisioterapi komunitas bagi pasien dengan masalah mobilitas jangka panjang pascastroke belum jelas. Setelah dilakukan penelitian oleh Green dkk., ditemukan bahwa fisioterapi komunitas rutin pada pasien dengan kesulitan mobilitas setahun setelah onset stroke kurang efektif.

Para peneliti menyaring 359 pasien berusia lebih dari 50 tahun. Penilaian dibuat pada 3, 6, dan 9 bulan pada 170 pasien yang memenuhi persyaratan untuk diberikan intervensi atau tanpa intervensi. Tolok ukur primer adalah mobilitas yang diukur berdasarkan indeks mobilitas Rivermead. Tolok ukur sekunder berupa kecepatan jalan, frekuensi jatuh, aktivitas sehari-hari (skor indeks Barthel), aktivitas sosial (indeks aktivitas Frenchay), skala kecemasan rumah sakit dan depresi, serta stres emosional perawat (28 kuesioner kesehatan umum).

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ada perubahan dalam skor indeks mobilitas Rivermead yang signifikan antara kelompok intervensi dengan kontrol pada 3 bulan (p=0,018), tetapi hanya dengan nilai tengah 1 poin (95%, interval konfidens 0,1), dengan nilai interpolasi 0,55 (0,08-1,04). Kecepatan jalan sebesar 2,6 m/menit (0,30-4,95) lebih tinggi pada kelompok intervensi pada 3 bulan. Kedua perbaikan ini tidak ada yang menetap pada pengamatan 6 dan 9 bulan. Intervensi tidak berdampak pada aktivitas sehari-hari, aktivitas sosial, depresi, dan frekuensi jatuh pasien, atau pada stres emosional perawat.

Incoming search terms for the article:

Fluvastatin Memperbaiki Abnormalitas Lipid pada Pasien Insufisiensi Ginjal Kronik

Tuesday, June 24th, 2008

nsufisiensi ginjal kronik ditandai dengan ketidaknormalan metabolisme lipoprotein yang spesifik. Kelainan ini mempengaruhi apolipoprotein A (apo A)- dan apo B-yang mengandung lipoprotein. Untuk mengevaluasi efek fluvastatin, suatu inhibitor 3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase sintetis pada dislipoproteinemia renal, para peneliti melakukan uji periodik silang, dua arah, acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo.

Penelitian ini mengikutsertakan 45 pasien non-nefrotik (28 pria, 17 wanita) tanpa diabetes dengan insufisiensi ginjal kronik sedang sampai berat. Rerata umur 56,4 +/- 11 tahun. Laju filtrasi glomerulus berkisar antara 12 sampai 44 mL/menit/1,73 m2 luas permukaan badan (rerata 2,75 +/- 10,5 mL/menit/1,73 m2. Mereka diberikan fluvastatin 40 mg/hari, atau plasebo selama 8 minggu secara acak.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian fluvastatin menghasilkan pengurangan yang signifikan pada variabel hasil primer kolesterol low-density lipoprotein (LDL-C; -26%; P < 0.001), apo B (-21%; P < 0.001), dan kompleks lipoprotein B (Lp-Bc) (-14%; P < 0.01). Terdapat perbedaan statistik yang signifikan antara fluvastatin dengan plasebo untuk variabel hasil sekunder kolesterol total (-19%), trigliserida (TGs; -13%), VLDL-C (-13%), apo E (-13%), and Lp-B (-22%).

Tidak terdapat perbedaan pengobatan pada kolesterol high-density lipoprotein (HDL) atau lipoprotein (a). Pengobatan fluvastatin ditoleransi dengan baik tanpa efek samping serius selama penelitian.

Dapat disimpulkan bahwa pengobatan dengan fluvastatin pada pasien dengan insufisiensi ginjal sedang sampai berat dan mengarah pada reduksi signifikan dalam kolesterol-tinggi, tetapi sedikit kurang dalam TG-tinggi, apo B-yang mengandung lipoprotein. Masih perlu dijelaskan apakah perubahan positif dalam profil lipoprotein ini juga berakibat pada berkurangnya proses aterosklerotik pada pasien-pasien ini.

Incoming search terms for the article:

Cedera Kepala pada Dewasa Muda dan Risiko Depresi Seumur Hidup

Tuesday, June 24th, 2008

Cedera kepala adalah masalah kesehatan umum yang penting. Di Amerika Serikat, lebih dari 1,2 juta penduduk mengalami cedera kepala setiap tahunnya dan diperkirakan terdapat 5,3 juta penduduk dengan kecacatan akibat cedera kepala.

Kecacatan setelah cedera kepala dapat diakibatkan oleh faktor fisik, kognitif, atau psikososial. Depresi adalah gangguan mental yang paling sering dilaporkan, dengan tingkat prevalensi sekitar 26% pada sampel klinik saat penilaian awal, dan 18% sampai 31% pada 6 bulan setelah cedera. Cedera kepala juga dapat memiliki dampak kognitif jangka panjang, tetapi tidak banyak diketahui risiko depresi jangka panjang yang berhubungan dengan cedera kepala. Karena itu, dilakukan penelitian untuk menyelidiki tingkat penyakit depresi 50 tahun setelah cedera kepala.

Mereka yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah veteran Perang Dunia II yang bertugas selama 1944-1945, dan pada masa itu dirawat di rumah sakit dengan diagnosis cedera kepala, pneumonia, laserasi, luka tusuk, atau luka sobek. Untuk menentukan ada tidaknya serta derajat keparahan cedera kepala jarak dekat digunakan catatan militer. Veteran dengan cedera kepala (n=520) dan tanpa cedera kepala (n=1198) diwawancarai pada 1996-1997 untuk mengetahui riwayat penyakit depresi sepanjang hidup mereka. Pada penelitian ini, pria yang telah mengalami dementia tidak disertakan.

Setelah dilakukan analisis, ditemukan hasil bahwa veteran dengan cedera kepala cenderung sering melaporkan gangguan depresi mayor pada tahun-tahun kemudian dan lebih sering mengalami depresi belakangan ini. Dengan menggunakan regresi logistik dan kontrol pada usia serta pendidikan, prevalensi depresi mayor sepanjang hidup pada kelompok cedera kepala sebesar 18,5% bila dibandingkan dengan mereka yang tanpa cedera kepala 13,4% (rasio odds = 1,54; 95% interval konfidens = 1,17-2,04).

Depresi mayor yang baru terdeteksi pada 11,2% veteran dalam kelompok cedera kepala. Sedangkan pada kelompok tanpa cedera kepala, depresi mayor baru hanya terdapat pada 8,5% veteran (rasio odds = 1,63; 95% interval konfidens = 1,07-2,50). Peningkatan depresi ini tidak dapat dijelaskan dengan riwayat infark miokard, kecelakaan serebrovaskular, atau penyalahgunaan alkohol. Risiko depresi seumur hidup meningkat sesuai keparahan cedera kepala.

Dapat disimpulkan bahwa risiko depresi tetap tinggi puluhan tahun setelah terjadinya cedera kepala. Risiko ini tertinggi pada mereka yang mengalami cedera kepala berat.

Incoming search terms for the article:

Pembandingan Metode untuk Mengidentifikasi Virus Herpes Simpleks yang Resisten

Tuesday, June 24th, 2008

Sejumlah pengujian in vitro telah dilakukan untuk menentukan kerentanan virus herpes simpleks (HSV) terhadap obat antiviral, tetapi hasil pengujian ini seringkali bertolak belakang dengan hasil pengobatan. Untuk itulah sejumlah peneliti berkeinginan untuk menemukan metode dengan kemampuan yang lebih baik untuk identifikasi suatu isolat sebagai resisten asiklovir atau pensiklovir. Suatu studi evaluasi komparatif dari empat uji in vitro, reduksi plak (PRA), hibridisasi DNA, efisiensi plating (PEA), dan autoradigrafi plak dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengukur resistensi isolat HSV klinis (HSV-1 N4) dengan akurat dari pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan asiklovir. Dua kriteria ditegakkan untuk memperkirakan resistensi antiviral, IC50 > 2,0 mg/ml atau IC50 lebih besar dari 10¥ di atas virus sensitif IC50, seperti halnya pengujian pada deretan sel manusia (MRC-5) dan bukan manusia (monyet ginjal Vero dan CV-1) dievaluasi.

Dari penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa metode yang paling akurat dalam mengidentifikasi isolat pada batas resisten sebagai virus yang resisten obat adalah uji PRA dan hibridisasi DNA bila: (i) virus sensitif digunakan dalam tiap uji individual sebagai kontrol, (ii) kerentanan asiklovir dan pensiklovir dievaluasi pada sel manusia, dan (iii) kriteria 10x di atas IC50 sensitif digunakan untuk mengelompokkan virus sebagai virus yang resisten obat.

Incoming search terms for the article:

Mutasi Patoadaptif yang Meningkatkan Virulensi: Organisasi Genetik Regio cadA Shigella spp.

Tuesday, June 24th, 2008

Mutasi patoadaptif mengembangkan kemampuan spesies patogen melalui modifikasi ciri bawaan yang mempengaruhi faktor virulensi dan keturunan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dalam jaringan pejamu. Mutasi patoadaptif yang diperlihatkan spesies Shigella adalah hilangnya ekspresi dekarboksilase lisin (LDC) yang telah berevolusi dari Escherichia coli yang mengekspresikan LDC.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa produk aktivitas LDC, kadaverin, menghambat kerja enterotoksin Shigella dan gen yang mengkode LDC, cadA, hilang akibat penghapusan kromosom besar-besaran pada tiap spesies Shigella. Untuk lebih memahami sifat dan evolusi mutasi patoadaptif ini, sisa-sisa regio cad disekuens dari empat spesies Shigella. Analisis ini mengungkapkan adanya pengaturan gen yang baru dalam regio kromosom patogen ini. Penyisipan sekuens, genom faga, dan/atau lokus dari posisi yang berbeda dengan kromosom leluhur E.coli telah memindahkan lokus cadA untuk membentuk ikatan genetik yang berbeda dan unik pada masing-masing spesies Shigella. Studi hibridisasi dengan menggunakan E. coli K-12 microarray, menunjukkan bahwa gen yang dipindahkan untuk membentuk ikatan baru ini masih tetap berada dalam genom Shigella. Tidak satupun dari pengaturan gen baru ini tampak pada representasi filogen E. coli.

Pengamatan ini menunjukkan inaktivasi gen antivirulensi cadA terjadi secara independen pada tiap spesies Shigella. Evolusi konvergen mutasi patoadaptif ini menunjukkan bahwa setelah evolusi dari E.coli komensal, besarnya tekanan pada jaringan pejamu menyeleksi klon Shigella dengan kemampuan dan virulensi yang lebih tinggi melalui penghapusan ciri leluhur (LDC). Hasil penelitian ini sangat mendukung peran mutasi patoadaptif sebagai jalur penting dalam evolusi organisme patogen.

Incoming search terms for the article:

Efikasi Vaksin Malaria Efikasi Vaksin Malaria RTS,S/AS02 terhadap Infeksi Plasmodium falciparum di Gambia

Tuesday, June 24th, 2008

Malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di banyak negara di daerah tropis. Pengembangan vaksin yang efektif menjadi prioritas kesehatan utama di negara-negara ini. Vaksin ini ditujukan untuk stadium praeritrosit P. falciparum dan dapat mencegah atau mengurangi jumlah parasit yang mencapai stadium eritrosit, yang menyebabkan sakit.

Kandidat vaksin malaria sebelumnya, SPf66, yang memberikan perlindungan pada penelitian awal di Amerika Selatan dan Tanzania, ternyata tidak memberikan hasil serupa ketika diuji coba di Afrika dan Asia. Karena itulah dilakukan penelitian dengan vaksin baru, yaitu RTS,S/AS02.

RTS,S/AS02 merupakan vaksin malaria praeritrosit yang dibuat berdasarkan protein permukaan sirkumsporozoit P. falciparum yang difusi dengan HbsAg dan digabungkan dengan adjuvan baru (AS02). Penelitian dilakukan secara random untuk mengetahui efikasi RTS,S/AS02 terhadap infeksi alami P. falciparum pada pria dewasa yang setengah imun di Gambia.

Penelitian dilakukan terhadap 306 pria Gambia berusia 18-45 tahun. Mereka secara acak diberikan tiga dosis, baik RTS,S/ASS02 ataupun vaksin rabies sebagai kontrol. Para sukarelawan ini diberikan sulfadoksin/pirimetamin 2 minggu sebelum dosis ketiga, dan berada dalam pengawasan selama musim penularan malaria. Sediaan apus darah dikumpulkan sekali seminggu dan setiap kali seorang sukarelawan mengalami gejala malaria. Tujuan utamanya adalah menemukan saat pertama kali infeksi P. falciparum.

Hasil pengamatan menunjukkan 250 pria (131 pada kelompok RTS,S/AS02 dan 119 pada kelompok kontrol) menerima tiga dosis vaksin dan diamati selama 15 minggu. RTS,S/AS02 terbukti aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Infeksi P. falciparum secara signifikan terjadi lebih awal pada kelompok kontrol dibandingkan pada kelompok RTS,S/AS02 (uji Wilcoxon, p = 0,018). Efikasi vaksin sebesar 34% (95% interval konvidens 8,0-53, p = 0,014), setelah faktor bias ditiadakan. Proteksi vaksin tampaknya semakin berkurang. Perkiraan efikasi selama 9 minggu pertama pengamatan sebesar 71% (46-85), tetapi berkurang menjadi 0% (-52-34) dalam 6 minggu berikutnya. Vaksinasi menginduksi respons antibodi yang kuat terhadap protein sirkumsporozoit, juga respons sel-T yang kuat. Proteksi tidak terbatas pada genotip parasit NF54 yang merupakan asal vaksin. Sebanyak 158 pria menerima dosis keempat satu tahun berikutnya dan diamati lagi selama 9 minggu. Pada periode ini, efikasi vaksin hanya 47% (4-71, p = 0,037).

Dari studi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa RTS,S/AS02 adalah vaksin yang aman, imunogenik, dan merupakan vaksin praeritrosit pertama yang menunjukkan proteksi yang signifikan terhadap infeksi alami P. falciparum.

Incoming search terms for the article:

Pedoman Pengobatan Mandiri untuk Diare Akut Dewasa

Tuesday, June 24th, 2008

Diare akut tanpa komplikasi pada orang dewasa, secara umum bisa diobati sendiri. Pedoman pengobatan sudah banyak dibuat, hanya saja tidak konsisten. Kadang-kadang kontradiktif dan lebih sering berupa dogma daripada berdasarkan bukti. Sebuah kelompok yang terdiri dari 7 ahli tingkat dunia dari berbagai disiplin ilmu telah dibentuk. Kelompok ini meneliti kembali berbagai petunjuk pengobatan yang rasional dan memeriksa validitas dari berbagai pengobatan yang berbeda, sehingga diperoleh suatu petunjuk pengobatan berdasarkan bukti dan dapat diaplikasikan secara luas. Penting untuk memberi tekanan bahwa tujuan pembuatan guideline ini adalah untuk merumuskan standar pengobatan sendiri pada orang dewasa yang masih kuat.

Kelompok peneliti ini mengulas banyak makalah mengenai diare dari Medlines untuk melihat apakah benar bahwa diare adalah mekanisme pertahanan. Disimpulkan bahwa anggapan diare sebagai mekanisme pertahanan terlihat sebagai logika yang tidak terlalu mendalam, terutama jika diare tersebut disebabkan oleh patogen. Sulit untuk menjelaskan bagaimana diare dapat menghilangkan patogen yang sudah melekat di fimbrae dan mengurangi sekresi yang disebabkan oleh toksin yang sudah melekat kuat di mukosa usus. Atau, pada kasus diare karena virus, bagaimana bisa meningkatkan absorbsi jika mukosanya sudah rusak. Pada pasien karena AIDS atau infeksi parasit dengan perubahan respons imun, diare tidak melenyapkan patogen. Lebih jauh, hipotesis mengenai mekanisme pertahanan tidak cocok untuk diare yang lain, seperti diare karena diabetes, stres, atau hipertiroid yang tidak ada hubungannya dengan patogen.

Mereka juga mengkaji berbagai pilihan terapi diare akut pada orang dewasa. Studi farmakologi dan studi klinis juga memeriksa dosis, jadwal pemberian (contoh, seperti profilaksis dan terapi akut), dan hubungannya dengan efektivitas klinis serta pengobatan sendiri pada diare akut dewasa. Secara umum diakui bahwa pengobatan diare akut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan disfungsi sosial yang terjadi. Tidak ada bukti bahwa pengobatan sendiri dapat memperpanjang penyakit, bahkan cukup aman bagi pasien dewasa.

Pilihan terapi diare akut yang dikaji meliputi cairan rehidrasi oral (CRO), probiotik, adsorbent, dan beberapa obat antidiare. Hasil yang diperoleh di antaranya CRO tidak mengurangi lamanya diare atau mengurangi frekuensi diare. CRO juga tidak memberikan manfaat yang berarti bagi orang dewasa yang dapat menjaga asupan cairannya selama diare. Sementara itu, hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan dengan probiotik pada manusia mengurangi kolonisasi pathogen atau melindungi dari organisme seperti Vibrio cholera atau E. coli. Adsorbent bekerja dengan mengikat air sehingga mengurangi cairan yang keluar bersama diare. Tetapi, selain memiliki efek samping yang rendah, adsorbent tidak memberikan banyak manfaat pada orang dewasa yang terkena diare akut.

Obat antidiare yang lebih lama seperti opium, morphine, dan codein memang efektif mengatasi diare, tapi memiliki efek sentral. Secara umum, efektivitasnya lebih rendah dibanding loperamide. Karena itu, loperamide oral adalah pilihan utama terapi. Loperamide adalah peripheral acting opiate, yang tidak berpotensi untuk disalahgunakan. Obat ini tidak melewati sawar darah otak dan sulit mencapai sirkulasi sistemik karena ekstraksi yang ekstensif di hati serta ekskresi melalui tinja. Loperamide memiliki banyak efek antiekskresi, beberapa di antaranya tidak dimediasi oleh reseptor opiat. Pada orang dewasa sehat, dosis terapeutik sebesar 4 mg tidak secara signifikan memperlambat transit orocaecal. Dosis yang lebih besar atau pengulangan dosis yang mempertinggi konsentrasi obat di sirkulasi enterohepatik, memperlambat jejunum atau transit orocaecal. Tapi, pada keadaan diare dosis terapi tersebut akan menormalkan transit. Bukti dari studi yang terkontrol memperlihatkan loperamide tidak memiliki efek yang tidak baik untuk kasus infeksi non-disentri pada diare perjalanan (tanpa demam tinggi atau darah di tinja), meskipun disebabkan oleh E. coli, Shigella, Campylobacter atau Salmonella, baik monoterapi maupun dikombinasi dengan antibiotik. Jika dikombinasi dengan antibiotik, loperamide akan mengurangi frekuensi diare dan memperpendek durasi diare.

Secara singkat, panel ahli merekomendasikan pedoman pengobatan diare akut dewasa sbb.:

* Intake cairan: Sebaiknya dikonsumsi sesuai dengan rasa haus yang timbul. Dianjurkan untuk minum cairan yang mengandung glukosa (limun, soda manis, jus buah) atau sup yang mengandung banyak elektrolit.

* Cairan rehidrasi oral: Meskipun sangat penting untuk kasus diare pada anak-anak, ORS tidak diperlukan untuk orang dewasa sehat yang terkena diare. Tidak ada bukti bahwa ORS dapat menyembuhkan atau memperpendek masa diare.

* Intake makanan: Sebaiknya konsumsi makanan padat tetap dilakukan sesuai selera. Tidak ada bukti bahwa memakan makanan padat akan menghambat penyembuhan. Makanan kecil yang ringan dianjurkan. Makanan berlemak, berat, pedas, atau merangsang (kafein, termasuk yang terdapat dalam minuman yang mengandung cola), sebaiknya dihindari. Menghindari laktosa di dalam makanan (seperti susu) mungkin akan membantu untuk kasus diare akut yang episodenya lebih panjang.

* Probiotik: Terbukti tidak membantu meskipun digunakan pada awal pengobatan.

* Obat anti diare: Pilihan utamanya adalah loperamide 2 mg (dosis fleksibel, tergantung dari seberapa sering BAB cair yang terjadi). Anti diare lain tidak direkomendasikan karena efektivitasnya belum pasti, mula kerja yang lambat, dan potensi efek samping yang ditimbulkan. Tidak ada bukti bahwa menghambat keluarnya BAB cair akan memperpanjang penyakit. Justru telah terbukti penggunaan antidiare akan mengurangi diare dan mmperpendek durasi diare.

* Antimikroba: Dianjurkan untuk diberikan pada turis yang bepergian dalam travel kit beserta loperamide. Quinolone direkomendasikan sebagai pilihan utama, dan pilihan berikutnya adalah cotrimoxazole.

Campur tangan dokter juga diperlukan jika tidak ada perbaikan gejala setelah 48 jam, atau ada bukti terjadinya kemunduran, seperti dehidrasi, perut kembung, atau tanda-tanda disentri (panas > 38,5ºC dan darah pada tinja)

Incoming search terms for the article: